Pengertian Pengambilan Keputusan

Pengambilan keputusan adalah memilih satu atau lebih di antara sekian banyak alternatif keputusan. Dapat dikatakan juga sebagai pross memilih suatu alternatif cara bertindak dengan metode yang efisien sesuai situasi. Pernyataan ini menegaskan bahwa mengambil keputusan memerlukan satu seri tindakan, membutuhkan beberapa langakah. Dalam dunia manajemen atau dalah kehidupan organisasi, baik swasta maupun pemerintah, proses atau sri tindakan itu lebih banyak tampak dalam berbagai diskusi. Salah satu komponen terpenting dari proses pembuatan keputusan ialah kegiatan pengumpulan informasi dari mana suatu apresiasi mengenai situasi keputusan dapat dibuat.

Menurut Drucker (1990) pengambian keputusan merupakan tindakan pemilihan dari satu atau lebih kemungkinan, namun ini hampir tidak merupakan pemilihan antara yang benar dan yang mungkin salah.

Menurut George R. Terry, pengambilan keputusan adalah pemilihan alternatif perilaku (kelakuan) tertentu dari dua atau lebih alternati yang ada.

Menurut S.P. Siagian, pengambilan keputusan adalah proses yang digunakan untuk memilih suatu tindakan sebagai cara pemecahan masalah.

Menurut Ibnu Syamsi, pengambilan keputusan adalah tindakan pimpinan untuk memecahkan masalah yang dihadapi dalam organisasi yang dipimpinnya dengn melalui satu diantara alternatif-alternatif yang memungkingkan.

Menurut James A.F Stoner, pengambilan keputusan adalah proses yang digunakan untuk memilih suatu tindakan sebagai cara pemecahan masalah.

Selain beberapa pengertian di atas, pengambilan keputusan itu juga berarti proses memilih suatu alternatif cara bertindak dengan metode yang eisien sesuai dengan situasi (Salusu, 1996:47).

Dari definisi pengambilan keputusan di atas maka dapat ditarik kesimpuan bahwa pengambilan keputusan adalah suatu cara yang digunakan untuk memberikan suatu pendapat yang dapat menyelesaikan suatu masalah dengan cara/teknik tertentu agar dapat lebih diterima oleh semua pihak. Masalahnya terlebih dahulu harus diketahui dan dirumuskan dengan jelas, sedangkan pemecahannya harus didasarkan pemillihan alternati terbaik dari alternatif yang ada.

Fungsi dan Tujuan Pengambilan Keputusan

Pengambilan keputusan sebagai suatu kelanjutan dari cara pemecahan masalah memiliki fungsi antara lain sebagai pangkal permulaan dari semua aktivitas manusia yang sadar dan terarah, baik secara individual maupun secara kelompok, baik secara institusional maupun secara organisasional. Selain itu pengambilan keputusan juga merupakan sesuatu yang bersifat futuristik, artinya bersangkut paut dengan hari depan, masa yang akan datang, di mana efeknya atau pengaruhnya brlangsung cukup lama.

Kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam organisasi itu dimaksudkan untuk menapai tujuan organisasinya. Yang diinginkan semua kegiatan itu dapat berjalan lancar dan tujuan dapat tercapai dengan mudah dan efisien. Namun, kerap kali terjadi hambatan-hambatan dalam melaksanakan kegiatan. Ini merupakan masalah yang harus diselesaikan oleh pimpinan organisasi. Pengambilan keputusan ini  dimaksudkan untuk memecahkan masalah tersebut. Kerap kali pengambilan keputusan itu hanya merupakan satu segi saja, misalnnya hanya menyangkut segi keuangan saja dan kalau dipecahkan tidak menimbulkan efek sampingan atau akibat laian. Tetapi ada kemungkinan dapat saja terjadi masalah yang pemecahannya menghendaki dua hal kontradiksi terpecahkan sekaligus (Syamsi, 2000:5).

Oleh karena itu tujuan pengambilan keputusan itu dibedakan menjadi dua, yaitu sebagai berikut

1. Tujuan yang bersifat tunggal

Tujuan pengambilan kputusan yang bersifat tunggal terjadi apabila keputusan yang dihasilkan hanya menyangkut satu masalah, artinya bahwa sekali diputuskan, tidak akan ada kaitannya dengan masalah lain.

2. Tujuan yang bersifat ganda

Tujuan pengambilan keputusan yang bersifat ganda terjadi apabila keputusan yang dihasilkan itu menyangkut satu masalah, artinya bahwa  satu kepputusan yang diambil itu sekaligus memecahkan dua masalah (atau lebih), yang bersifat kontradiktif atau yang tidak bersifat kontradiktif.

Dasar-dasar Pengambilan Keputusan

Menurut George R. Terry, disebutkan dasar-dasar dari pengambilan keputusan yang berlaku sebagai berikut :

1. Intuisi

Pengambilan kputusan yang brdasarkan atas intuisi atau perasaan memiliki sifat subjektif, sehingga mudah terkena pengaruh. Pengambilan keputusan berdasarkan intuisi ini mengandung beberapa kelebihan dan kelemahan.

Kelebihannya antara lain sebagai berikut :

 

  1. Waktu yang digunakan untuk mengambil keputusan relatif lebih pendek
  2. Untuk masalah yang pengaruhnya terbatas, pengambilan keputusan akan memberikan kepuasan pada umumnya
  3. Kemampuan mengambil keputusan dari pengambil keputusan itu sangat berperan, dari itu perlu memanfaatkan dengan baik

Kelemahannya antara lain sebagai berikut :

  1. Keputusan yang dihasilkan relatif kurang baik
  2. Sulit mencari alat pembandingnya, sehingga sulit diukur kebenaran dan keabsahannya
  3. Dasar-dasar lain dalam pengambilan keputusan sering kali diabaikan
  4. Pengalaman

Pengambilan keputusan berdasarkan pengalaman memiliki manfaat bagi pengetahuan praktis. Karena pengalaman seseorang dapat memperkirakan keadaan sesuatu, dapat memperhitungkan untung dan ruginya, baik-buruknya kputusan yang akan dihasilkan. Karena pengalaman, seseorang yang menduga masalahnya walaupun hanya dengan mellihat sepintas saja mungkin sudah dapat menduga cara penyelesaiannya.

Baca Juga : Perspektif Dan Proses Berfikir Dalam Komunikasi Pemerintahan

 

2. Fakta

Pengambilan kputusan berdasarkan fakta dapat mmberikan keputusan yang sehat, solid, dan baik. Dengan fakta, maka tingkat kepercayaan terhadap pengambil keputusan dapat lebih tinggi, sehingga orang dapat menerima kputusan dengan rela dan lapang dada.

3. Wewenang

Pengambilan keputusan berdasarkan wewenang biasanya dilakukan oleh pimpinan terhadap bawahannya atau orang yang lebih tinggi kedudukannya kepada orang yang lebih rendah kedudukannya. Pengambilan keputusan berdasarkan wewenang juga memiiki beberapa kelebihan dan kelemahan.

Kelebihannya antara lain sebagai berikut :

  1. Kebanyakan penerimanya adalah bawahan, terlepas apakah penerimaan tersebut secara sukarela ataukah secara terpaksa
  2. Keputusan dapat bertahan dalam jangka waktu yang cukup lama
  3. Memiliki otentisitan (otentik)

Kelemahannya antara lain sebagai berikut :

  1. Dapat menimbulkan sifat rutinitas
  2. Mengasosiasikan dengan praktek diktatorial
  3. Sering melewati permasalahan yang seharusnya dipecahkan sehingga dapat menimbulkan kekaburan

Sumber : Makalah Pembelajaran Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN)

Pin It on Pinterest

Share This