Agustus 2019 | Rozi Piliang
Aturan Sidang Isbat Nikah  Dalam Perundang-Undangan

Aturan Sidang Isbat Nikah Dalam Perundang-Undangan

Penjelasan Undang-Undang nomor 1 Tahun 1976 tentang Perkawinan bahwa suatu perkawinan dinyatakan sah apabila sudah tercatat oleh negara melalui Kantor Urusan Agama. Apabila suatu pernikahan telah terjadi namun belum sah secara hukum atau masih ada terdapat keraguan dan halangan terhadap suatu perkawinan maka perlu dilaksakan sidang istbat nikah.

Menurut Peraturan Mahkamah Agung nomor 1 Tahun 2015, sidang istbat nikah adalah pengesahan nikah bagi masyarakat  beragama islam yang dilakukan oleh Pengadilan Agama/Mahkamah Syariyah sesuai dengan  ketentuan perundang-undangan yang berlaku.

Kompilasi hukum di Indonesia melalui Instruksi Presiden Republik Indonesia nomor 1 Tahun 1991 menjelaskan bahwa perkawinan hanya dapat dibuktikan dengan akta nikah yang dibuat oleh pegawai pencatat nikah. Apabila tidak dapat dibuktikan dengan akta nikah maka dapat mengajukan sidang isbat nikahnya ke Pengadilan Agama/Mahkamah Syariyah.

Pelaksanaan sidang Istbat Nikah hanya bisa diajukan ke Pengadilan Agama terbatas mengenai hal-hal yang berkenaan dengan :

  • Adanya perkawinan dalam rangka penyelesaian perkawinan.
  • Hilangnya akta nikah.
  • Adanya keraguan tentang sah atau tidaknya salah satu syarat perkawinan.
  • Adanya perkawinan yang terjadi sebelum berlakunya Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974.
  • Perkawinan yang dilakukan oleh mereka yang tidak mempunyai halangan perkawinan menurut Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974.
Selanjutnya pada pasal (7) ayat (4) pada Instruksi Presiden tersebut lebih jauh dijelaskan bahwa yang berhak mengajukan permohonan sidang istbat nikah adalah suami atau isteri, anak-anak mereka, wali nikah dan pihak-pihak yang berkepentingan dalam perkawinan tersebut.
Mekanisme pelaksanaan sidang istbat nikah juga diatur pada BAB IV pasal 11 peraturan mahkamah Agung nomor 1 Tahun 2015. Mekanisme pelayana tersebut adalah sebagai berikut;
  1. Perkara yang dilayani dalam pelayanan terpadu oleh pengadilan Agama adalah perkara pengesahan perkawinan yang bersifat permohonan (voluntair).
  2. Sidang permohonan dihadiri oleh pasangan suami isteri yang masih hidup secara pribadi kecuali ada alasan lain.
  3. Dalam hal salah satu pasangan atau keduanya telah meninggal, permohonan sidang istbat nikah tidak dapat dilaksanakan pada pelayanan terpadu.
  4. Permohonan diajukan kepada pengadilan Agama yang daerah hukumya meliputi tempat kediaman pemohon.
  5. Pemerikasaan pemohon sebagaimana pada ayat (1) dan (2) dapat dilakukan oleh hakim Tunggal.
  6. Tata cara sidang diluar gedung pengadilan dilaksanakan berdasarkan ketentuan yang berlaku.
  7. Dalam Menjalankan Tugasnya, hakim tersebut dibantu oleh satu orang panitera/ pnitera pengganti, satu orang jurista/jurista pengganti, dan sekurang kurangnya satu orang petugas administrasi.
  8. Pemanggilan pemohon yang jumlahnya lebih dari satu dapat dilakukan dengan diumumkan oleh pemerintah daerah dan papan pengumuman pengadilan setempat atau media lainnya yang dimiliki oleh pengadilan.
  9. Pelaksanaan sidang dalam pelayanan terpadu dilakukan sesuai dengan hukum acara dan ketentuan yang berlaku.
  10. Layanan terpadu dapat dilaksanakan bersamaan dengan layanan pos bantuan hukum dan sidang reguler.
Dalam konteks lain sidang istbat nikah juga dapat dilakukan secara terpadu, terpadu maksudnya adalah dilakukan bersama-sama oleh Kementerian Agama melelui KUA dengan Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil serta Pengadilan Agama dengan tujuan untuk pengesahan perkawinan dan pemerbitan dokumen kependudukan. Untuk pembahasan Sidang Istbat Nikah terpadu dapat dibaca pada artikel Sidang Istbat Nikah Terpadu.
 
Demikian Pembahasan tentang Aturan Sidang Istbat Nikah  Dalam Perundang-Undangan, Semoga bermanfaat dan dapat menambah wawasan. Jika ada kritik dan saran dapat menuliskan komentar di bawah postingan ini atau dapat lansung mengirimkan pesan ke email admin. Bagi kalian yang ingin berlangganan dengan artikel-artikel yang admin tulis dapat mengikuti situs ini via email dengan cara memasukan email kalian pada kolom yang tersedia dibawah ini.
3 Cara Jitu Membuat Atasan Senang Agar Karir Meningkat

3 Cara Jitu Membuat Atasan Senang Agar Karir Meningkat

Dalam dunia birokrasi tentu ada yang namanya atasan dan bawahan, seorang atasan harus bisa mengayomi bawahan dan seorang bawahan harus hormat dan bisa menghargai atasannya. Dibeberapa kasus ada atasaan yang bawaannya muak melihat tingkah laku bawahannya dan begitu juga sebaliknya, banyak bawahan yang risih terhadap tingkah laku atasannya.

Bagi seorang atasan dia berhak menentikan kebijakan untuk para bawahannya, soo dia adalah pimpinan ya bisa buat kebijakan apa aja. Nah bagi bawahan kalian tidak bisa berbuat semena mena kepada atasan, jika kalian mebuat atasan kalian kesal bisa bisa kalian diberikan tindakan yang kalian tidak sengangi, alhasil pekerjaan dan tugas tidak akan mencapai hasil yang diinginkan.

Oleh karena itu untuk kalian para bawahan atau anak buah, Rozipiliang.com akan mengulas beberapa cara yang dapat kalian lakukan untuk membuat atasan kalian senang dan bisa memberikan perhatian lebih kepada kalian jika menerapkan langkah-langkah ini.

Sederhana saja, yang harus kalian lakukan hanya   tiga hal, biasanya kami menyingkat istilah ini dengan LDR, LDR adalah singkatan dari Loyalitas, Disiplin, dan Respect. tiga hal ini menjadi kunci utama agar atasan kalian bisa senang dengan pekerjaan yang kalian lakukan. Percaya tidak percaya jika kalian melakukan dari ketiga langkah diatas maka kalian akan mersaakan perubahannya.

1. Loyalitas

Saya rasa kalian sering mendegar istilah loyal dan kalian paham maksudnya,  namun saya yakin dan percaya masih ada kalian yang belum tau pengertian dari loyalitas.

Pengertian Loyalitas secara singkat adalah mutu dari sikap setia. Sedangka secara luas defenisi loyalitas adalah tindakan memberi atau menunjukkan dukungan kepada seseorang atau instititusi.
Kaitannya dalam birokrasi adalah sebagai seorang bawahan kalian harus bisa menunjukkan sikap setia dan menunjukkan dukungan penuh kepada atasan kalian atas kebijakan yang diberikannya. Tidak ada kata “Tidak Bisa” bagi seorang bawahan.  yang ada kalian harus bisa mencari solusi apa yang diinginkan atasan tersebut bisa diselesaikan. jika ini kalian lakukan atasan akan senang dengan sikap yang kalian tunjukkan.

2. Disiplin

Di institusi manapun disiplin adalah hal utama yang harus dimiliki bagi setiap SDM nya, bagaimana sebuah birokrasi atau organisasi akan berjalan baik jika orang-orang yang ada didalamnya tidak disiplin.
Bagaimana atasan akan senang melihat bawahannya tidak disiplin dalam bekerja, pekerjaan yang seharusnya bisa diselesaikan tepat waktu akan molor akibat staf atau bawahan tidak disiplin dalam bekerja. Oleh karenanya yang harus kalian tunjukkan kepada atasan kalian berikutnya adalah didiplin. jika kalaian tidak terlalu bisa menguasai pekerjaan kalian secara utuh, namun jika kalian disiplin maka akan ada nilai tambah untuk kalian dari atasan.
So, disiplinlah dalam bekerja.

3. Respek

Respek dalam kata lain juga bisa diartikan horamat, namun bukan hanya sekedar hormat saja. Sebagian pakar mengatakan respek bisa diartikan tingkatan lebih lanjut dari simpati.
dengan meberikan respek kepata atasan yakinlah kalian akan disenangi oleh atasan tersebut.
Itulah tiga langkah yang harus kalian lakukan, jika kalian sudah melakukannya banyak manfaat yang akan kalian dapatkan, bisa bisa kalian akan di promosikan untuk mendapatkan jabatan yang lebih baik dan lebih tinggi. Semoga artikel ini bermanfaat.
Demikian Pembahasan tentang cara membuat atasan senang, Semoga bermanfaat dan dapat menambah wawasan. Jika ada kritik dan saran dapat menuliskan komentar di bawah postingan ini atau dapat lansung mengirimkan pesan ke email admin. Bagi kalian yang ingin berlangganan dengan artikel-artikel yang admin tulis dapat mengikuti situs ini via email dengan cara memasukan email kalian pada kolom yang tersedia dibawah ini.
Pengertian, Fungsi, Tujuan dan Dasar-dasar Pengambilan Keputusan

Pengertian, Fungsi, Tujuan dan Dasar-dasar Pengambilan Keputusan

Pengertian Pengambilan Keputusan

Pengambilan keputusan adalah memilih satu atau lebih di antara sekian banyak alternatif keputusan. Dapat dikatakan juga sebagai pross memilih suatu alternatif cara bertindak dengan metode yang efisien sesuai situasi. Pernyataan ini menegaskan bahwa mengambil keputusan memerlukan satu seri tindakan, membutuhkan beberapa langakah. Dalam dunia manajemen atau dalah kehidupan organisasi, baik swasta maupun pemerintah, proses atau sri tindakan itu lebih banyak tampak dalam berbagai diskusi. Salah satu komponen terpenting dari proses pembuatan keputusan ialah kegiatan pengumpulan informasi dari mana suatu apresiasi mengenai situasi keputusan dapat dibuat.

Menurut Drucker (1990) pengambian keputusan merupakan tindakan pemilihan dari satu atau lebih kemungkinan, namun ini hampir tidak merupakan pemilihan antara yang benar dan yang mungkin salah.

Menurut George R. Terry, pengambilan keputusan adalah pemilihan alternatif perilaku (kelakuan) tertentu dari dua atau lebih alternati yang ada.

Menurut S.P. Siagian, pengambilan keputusan adalah proses yang digunakan untuk memilih suatu tindakan sebagai cara pemecahan masalah.

Menurut Ibnu Syamsi, pengambilan keputusan adalah tindakan pimpinan untuk memecahkan masalah yang dihadapi dalam organisasi yang dipimpinnya dengn melalui satu diantara alternatif-alternatif yang memungkingkan.

Menurut James A.F Stoner, pengambilan keputusan adalah proses yang digunakan untuk memilih suatu tindakan sebagai cara pemecahan masalah.

Selain beberapa pengertian di atas, pengambilan keputusan itu juga berarti proses memilih suatu alternatif cara bertindak dengan metode yang eisien sesuai dengan situasi (Salusu, 1996:47).

Dari definisi pengambilan keputusan di atas maka dapat ditarik kesimpuan bahwa pengambilan keputusan adalah suatu cara yang digunakan untuk memberikan suatu pendapat yang dapat menyelesaikan suatu masalah dengan cara/teknik tertentu agar dapat lebih diterima oleh semua pihak. Masalahnya terlebih dahulu harus diketahui dan dirumuskan dengan jelas, sedangkan pemecahannya harus didasarkan pemillihan alternati terbaik dari alternatif yang ada.

Fungsi dan Tujuan Pengambilan Keputusan

Pengambilan keputusan sebagai suatu kelanjutan dari cara pemecahan masalah memiliki fungsi antara lain sebagai pangkal permulaan dari semua aktivitas manusia yang sadar dan terarah, baik secara individual maupun secara kelompok, baik secara institusional maupun secara organisasional. Selain itu pengambilan keputusan juga merupakan sesuatu yang bersifat futuristik, artinya bersangkut paut dengan hari depan, masa yang akan datang, di mana efeknya atau pengaruhnya brlangsung cukup lama.

Kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam organisasi itu dimaksudkan untuk menapai tujuan organisasinya. Yang diinginkan semua kegiatan itu dapat berjalan lancar dan tujuan dapat tercapai dengan mudah dan efisien. Namun, kerap kali terjadi hambatan-hambatan dalam melaksanakan kegiatan. Ini merupakan masalah yang harus diselesaikan oleh pimpinan organisasi. Pengambilan keputusan ini  dimaksudkan untuk memecahkan masalah tersebut. Kerap kali pengambilan keputusan itu hanya merupakan satu segi saja, misalnnya hanya menyangkut segi keuangan saja dan kalau dipecahkan tidak menimbulkan efek sampingan atau akibat laian. Tetapi ada kemungkinan dapat saja terjadi masalah yang pemecahannya menghendaki dua hal kontradiksi terpecahkan sekaligus (Syamsi, 2000:5).

Oleh karena itu tujuan pengambilan keputusan itu dibedakan menjadi dua, yaitu sebagai berikut

1. Tujuan yang bersifat tunggal

Tujuan pengambilan kputusan yang bersifat tunggal terjadi apabila keputusan yang dihasilkan hanya menyangkut satu masalah, artinya bahwa sekali diputuskan, tidak akan ada kaitannya dengan masalah lain.

2. Tujuan yang bersifat ganda

Tujuan pengambilan keputusan yang bersifat ganda terjadi apabila keputusan yang dihasilkan itu menyangkut satu masalah, artinya bahwa  satu kepputusan yang diambil itu sekaligus memecahkan dua masalah (atau lebih), yang bersifat kontradiktif atau yang tidak bersifat kontradiktif.

Dasar-dasar Pengambilan Keputusan

Menurut George R. Terry, disebutkan dasar-dasar dari pengambilan keputusan yang berlaku sebagai berikut :

1. Intuisi

Pengambilan kputusan yang brdasarkan atas intuisi atau perasaan memiliki sifat subjektif, sehingga mudah terkena pengaruh. Pengambilan keputusan berdasarkan intuisi ini mengandung beberapa kelebihan dan kelemahan.

Kelebihannya antara lain sebagai berikut :

 

  1. Waktu yang digunakan untuk mengambil keputusan relatif lebih pendek
  2. Untuk masalah yang pengaruhnya terbatas, pengambilan keputusan akan memberikan kepuasan pada umumnya
  3. Kemampuan mengambil keputusan dari pengambil keputusan itu sangat berperan, dari itu perlu memanfaatkan dengan baik

Kelemahannya antara lain sebagai berikut :

  1. Keputusan yang dihasilkan relatif kurang baik
  2. Sulit mencari alat pembandingnya, sehingga sulit diukur kebenaran dan keabsahannya
  3. Dasar-dasar lain dalam pengambilan keputusan sering kali diabaikan
  4. Pengalaman

Pengambilan keputusan berdasarkan pengalaman memiliki manfaat bagi pengetahuan praktis. Karena pengalaman seseorang dapat memperkirakan keadaan sesuatu, dapat memperhitungkan untung dan ruginya, baik-buruknya kputusan yang akan dihasilkan. Karena pengalaman, seseorang yang menduga masalahnya walaupun hanya dengan mellihat sepintas saja mungkin sudah dapat menduga cara penyelesaiannya.

Baca Juga : Perspektif Dan Proses Berfikir Dalam Komunikasi Pemerintahan

 

2. Fakta

Pengambilan kputusan berdasarkan fakta dapat mmberikan keputusan yang sehat, solid, dan baik. Dengan fakta, maka tingkat kepercayaan terhadap pengambil keputusan dapat lebih tinggi, sehingga orang dapat menerima kputusan dengan rela dan lapang dada.

3. Wewenang

Pengambilan keputusan berdasarkan wewenang biasanya dilakukan oleh pimpinan terhadap bawahannya atau orang yang lebih tinggi kedudukannya kepada orang yang lebih rendah kedudukannya. Pengambilan keputusan berdasarkan wewenang juga memiiki beberapa kelebihan dan kelemahan.

Kelebihannya antara lain sebagai berikut :

  1. Kebanyakan penerimanya adalah bawahan, terlepas apakah penerimaan tersebut secara sukarela ataukah secara terpaksa
  2. Keputusan dapat bertahan dalam jangka waktu yang cukup lama
  3. Memiliki otentisitan (otentik)

Kelemahannya antara lain sebagai berikut :

  1. Dapat menimbulkan sifat rutinitas
  2. Mengasosiasikan dengan praktek diktatorial
  3. Sering melewati permasalahan yang seharusnya dipecahkan sehingga dapat menimbulkan kekaburan

Sumber : Makalah Pembelajaran Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN)

Pin It on Pinterest